"nobody's perfect"
Dunia selebar daun kelor
Mungkin kamu udah gak asing lagi dengan kata itu karena memang kita sendiri sering ngalamin sendiri gimana rasanya.
Tapi kawan, dalam tulisan bertajuk "Dunia Selebar Daun Kelor" ini, aku coba memaparkan sedikit demi sedikit yang aku pahami mengenai quotes diatas.
Begini teman, suatu hari di saat kita masih memakan bangku sekolah dasar. Ketika kita Masih bocah yang cupu, bocah kurang kerjaan yang pulang sekolah suka nangkepin belalang di taman dan masih seneng dengan ketidakjelasan masa kecil kita yang kadang suka nyorakin orang gila lewat. Kala itu adalah masa-masa bahagia dimana temen ga ada yang makan temen, ga ada istilah buasnya rimba saling menikung.
Kita berantem cuma gara-gara ngerebutin power rangers merah bukan gara-gara cewe dan kita juga punya seorang sahabat yang setia bermain dengan diri kita walaupun dulu kita masih suka narik ingus, mereka juga mau menerima diri kita apa adanya karena mereka juga sama joroknya dengan kita. Indahnya jika diingat kembali...
Namun masalahnya bukan itu, gak ada hubungannya sama sekali dengan cerita aku kali ini.
Jadi, begini...
Dunia selebar daun kelor yang kita ketahuai adalah sebuah pribahasa yang bermakna bahwa dunia ini sempit. Orang yang kita kenal lewat media sosial bisa jadi adalah orang yang rumahnya cuma berjarak satu kompleks dengan rumah kita atau bisa jadi juga orang yang kita bully di media sosial adalah anak dosen paling killer di kampus. Nah, kalau gini kan namanya gali kuburan sendiri. Di semesta ini apapun bisa terjadi kawan. Ga ada yang ga mungkin karena skenario Tuhan benar-benar ajaib lebih dari yang kita bayangkan.
Jadi bijaklah menggunakan media sosial ya. Buatlah dunia maya jadi tempat yang enak tapi jangan seenak jidat.
Jadi bijaklah menggunakan media sosial ya. Buatlah dunia maya jadi tempat yang enak tapi jangan seenak jidat.
Tetapi, sebenarnya adalagi hikmah dibalik dunia selebar daun kelor.
Dari kita kecil sampe kita gede sekarang pasti kita selalu ketemu orang yang yang punya karakter pendiam, suka jahil, suka ngehasut, adu domba, bawel, jorok, tukang ngutang, gemesin dll.
Sejak kita mengenyam bangku SD, SMP, SMA, kuliah bahkan kita selalu nemu yang karakternya itu-itu aja. Kayak dunia ini sempit banget, selalu ketemu orang yang karakter yang sama semenjak kita masih ingusan.
Dari kita kecil sampe kita gede sekarang pasti kita selalu ketemu orang yang yang punya karakter pendiam, suka jahil, suka ngehasut, adu domba, bawel, jorok, tukang ngutang, gemesin dll.
Sejak kita mengenyam bangku SD, SMP, SMA, kuliah bahkan kita selalu nemu yang karakternya itu-itu aja. Kayak dunia ini sempit banget, selalu ketemu orang yang karakter yang sama semenjak kita masih ingusan.
Lalu, sejenak kemudian mari kita berfikir. Dari sekian banyak warna di dunia ini, dari sekian miliar orang dan miliaran karakter serta dari sekian berjuta-juta kemungkinan.
Kenapa ya aku selalu ketemu sama karakternya mirip si A? B? Z?
Kesel tau gak kalau harus ketemu terus dengan orang yang punya karakter nyebelin. Energi kita bakalan tersedot habis kalau deket-deket manusia-manusia ini, seketika aura negatif mengelilingi kita kalau dalam semenit kita gak jauh-jauh dari mereka. Aku pun coba berfikir lagi, merenung, menghayati, kenapa mereka harus ada dalam radar hidup ini.
Namun sayangnya, aku belum menemukan jawaban yang pas.
Gak sampai disini, aku belum menyerah gunain otak yang jarang kupakai ini. hingga akhirnya, setelah proses mencerna informasi-informasi yang ada dengan teknik cocoklogi muncul lah sebuah gagasan bahwa kita terus bertemu sama orang yang nyebelin karena Tuhan sedang melatih kita. Lho kok?
Begini...
Sebenarnya Tuhan bermaksud baik kepada kita. Tuhan selalu menempa diri kita dengan ujian-ujian-Nya agar kita menjadi lebih baik. Dan salah satu ujian dari Tuhan adalah menemukan kita dengan karakter yang berlawanan dengan kita, karakter yang selalu bikin kita pengen nyeleding.
Sebenarnya Tuhan bermaksud baik kepada kita. Tuhan selalu menempa diri kita dengan ujian-ujian-Nya agar kita menjadi lebih baik. Dan salah satu ujian dari Tuhan adalah menemukan kita dengan karakter yang berlawanan dengan kita, karakter yang selalu bikin kita pengen nyeleding.
Lalu kenapa kita selalu bertemu dengan karakter nyebelin itu-itu aja?
Jawabannya adalah karena kita belum lulus ujian dari Tuhan!
Kita belum bisa menerima perbedaan dari orang lain, kita masih belum bisa mengatasi bagaimana kita berhadapan dengan orang-orang 'spesial' ini atau sebenarnya kita masih beranggapan kalau kita ini yang paling baik.
Lagipula, dibalik kejadian itu pasti ada hikmah. Betapa indahnya pula jikalau setiap orang bisa saling memahami dan gak berprasangka buruk mulu. nobody's perfect, semua orang pernah salah, solusi satu-satunya ialah mentolerasi dan bersabar dengan perbedaan ini. Daripada berantem, ya mendingan berteman. Hingga suatu saat, kita bakal mengerti karakter mereka yang sesungguhnya. Seburuk-buruknya manusia pasti ada sisi baiknya.
Duh, kok jadi curhat panjang-lebar
Oke kalimat terakhir aku: Ambil positifnya aja, prasangkanya dibuang. Terimakasih


