Rabu, 11 April 2018
Pancasila
merupakan ideologi dasar bangsa Indonesia yang dibentuk sesuai dengan
keadaan bangsa. Jika ada yang dapat
melindungi Indonesia dari semenjak merdeka hingga sekarang dari berbagai
ancaman ideologi liar ialah Pancasila. Jika ada ideologi yang menyatukan
perbedaan ras, etnis, agama, dan suku ialah juga Pancasila. Jika ada ideologi
yang boleh dikatakan sempurna bagi Indonesia, ialah Pancasila. Lantas, sudahkah
kehidupan bernegara kita sekarang berlandaskan nilai-nilai Pancasila?
Jika
Pancasila itu menancap di dalam dada lantas mengapa masih banyak konflik mengatas-namakan
Tuhan, berita pengrusakan rumah ibadah smarak terjadi, kasus korupsi menjadi
makanan sehari-hari, pelanggaran HAM merajalela di dalam negeri dan mengapa
bangsa ini begitu mudah di pecah-belah dengan isu-isu SARA yang kita tahu
adalah hoax semata. Patutkah kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia mengaku
bahwa ideologi negara ini adalah
Pancasila jika keseharian kita jauh dari
pada sila-silanya. Sayangnya, dewasa ini Pancasila hanya sebatas hafalan,
melekat di kepala dan fasih di lidah semata tanpa ada aksi bukti. Dari yang
masih kecil sekalipun hapal Pancasila, tapi anehnya banyak kasus pelanggaran
Pancasila yang dimulai dari belia, semisal pembullyan. Sebab, Pancasila yang
mereka tahu hanya hapalan semata yang apabila tidak hapal akan disanksi oleh
gurunya.
Dan
lebih sayangnya lagi, Pancasila seolah menjadi pemanis di bibir belaka yang
terasa begitu manis ketika Timnas kita berlaga. Sehabis bubarnya pertandingan, bubar
pula perilaku-perilaku yang menjunjung tinggi nilai Pancasila.
Lalu,
bagaimana dengan peran mahasiswa dalam menyebar nilai-nilai Pancasila?
Mahasiswa
pada masa orde baru bolehlah kiranya dibilang generasi emas Indonesia, dengan
segala keterbatasan media dan kekangan pemerintah yang otoriter mereka mampu
menjungkir-balikkan rezim pada zamannya. Beberapa peristiwa menjadi saksi bisu
kelamnya sejarah, Trisakti. Perjuangan mahasiswa zaman dulu memang luar biasa hingga
tak segan mempertaruhkan nyawa. Mereka memberikan kontribusi perubahan yang
nyata akan masa depan bangsa.
Jika
dibandingkan dengan kondisi mahasiswa zaman sekarang maka jangan dibandingkan.
Jelas sekali beda jauh perjuangannya meskipun sekarang segala sesuatu serba
dimudahkan. Ada rasa 'manja' pada beberapa mahasiswa sekarang, acuh-tak-acuh
akan keadaan bangsa dan rakyatnya tapi paling semangat berbicara tentang
hiburan, ada yang bermental kerdil hingga mudah terprovokasi, ada pula yang
malas mencari data akhirnya mudah termakan hoax namun koar-koar di media sosial.
Alhasil, mahasiswa mudah diadu domba dan dimainkan sebagai pion politiknya penguasa.
Harapan
untuk mahasiswa zaman sekarang, ialah bersikap cerdaslah layaknya mahasiwa
millenial, gunakan media untuk perubahan berarti, jika suaramu tak didengar
oleh pemerintah dan media, ingat, banyak cara mengawali perubahan sekecil apa
pun itu. Jangan kolot. Gigih itu perlu, tapi kerja cerdas membuat perjuanganmu
lebih mudah dan berarti.
0 comments:
Post a Comment